back

 

METODA DI DALAM EKOLOGI LANSEKAP
Titien Suryani*

 

Abstract

Landscape approaches are so diverse that it is not possible to review them all comprehensively and to indicate standard metodologies. Many come from geostatistics, geobotanics, animal population analysis etc. Image processing, geographic information system, spatial statistic are the most common ways to explain landsacpe complexity, but there are still many other ways.

The scale of the landscape comprises a complete set of socioeconomic and ecological processes. All combined to form the real world, but considered separately, it acquires a fictional character. There are problems in the way, in which these various disciplines will interact, but space is recognized as a new frontier of ecology and the landscape is one of the main components of this space.

Pendahuluan*

Tumpang tindih antara teknologi infrastruktur (jalan-jalan, jembatan, rel kereta api) dengan struktur alami-ah seperti sungai, danau, lembah, dan punggung bukit, menciptakan halangan bagi banyak proses ekologi. Seperti erosi tanah, aliran air, perpin-dahan hewan dan penyebaran tanam-an. Untuk itu di dalam membuat suatu perencanaan lansekap diperlu-kan pengetahuan tentang alam dan skala, untuk membangun rancangan lansekap yang diminati dengan kapa-sitas yang berbeda-beda, sehingga tercapai kenyamanan yang optimal.

Adapun pertimbangan-pertimbangan perencanaan lansekap meliputi ben-tang alam ekologi, sosial, dan eko-nomi (Lovejoy, 1973). Di dalam melak-sanakan studi tersebut, perlu dilakukan identifikasi fakta di la-pangan, mengkaji serta menganalisa terhadap berbagai dampak dari ber-bagai faktor. Tujuannya adalah meng-gunakan hasil penelitian dari studi dasar membuat perencanaan.

Kapasitas dari ekologi lansekap un-tuk melacak proses ekologis melalui suatu jarak ruang, skala waktu dan budaya, menghantar kita untuk me-ngerti efek sebenarnya atau efek po-tensial dari penggunaan lahan dan perencanaan yang dilakukan untuk manusia. Suatu hal yang penting ada-lah pada tahap perencanaan, kita ha-rus memastikan bahwa di dalam me-rencanakan kebutuhan fasilitas-fa-silitas tidak merusak sumberdaya yang ada.

Dalam tulisan ini akan dibahas me-ngenai metoda di dalam ekologi lan-sekap, dan juga teknik koleksi serta analisa data.

Tinjauan Lansekap Dan Ekologi Lansekap

Tinjauan Lansekap

Terdapat beberapa definisi Lansekap, antara lain:

Lansekap adalah karakter total dari suatu wilayah (von Humbolt dalam Ferina, 1998).

Lansekap adalah konfigurasi partikel topografi, tanaman penu-tup, permukaan lahan dan pola kolonisasi yang tidak terbatas, beberapa koherensi dari kealami-an dan proses kultural dan aktifi-tas (Green dalam Ferina1998)

Harber membatasi lansekap se-bagai sebuah potongan lahan yang diamati seluruhnya, tanpa melihat dekat pada komponen-komponennya (Pers Com dalam Ferina 1998).

 

Definisi terakhir ini lebih cocok untuk membatasi lansekap sebagai penga-matan seluruh organisme dari tanam-an sampai hewan. Hal yang paling penting dalam pengelolaan lansekap adalah evaluasi nilai lansekap dan menemukan kriteria dengan cara mengevaluasi komponen-komponen-nya.

Ekologi Lansekap

Ekologi Lansekap dapat berguna bagi konservasi alam karena menyangkut pemikiran dari pengaturan habitat, pemikiran konsekuensi struktur dan proses untuk spesies yang berbeda.

Terdapat tiga (3) pandangan dalam ekologi lansekap (Ferina , Almo, 1998) antara lain:

Manusia : Pada perspektif manu-sia. Lansekap adalah dikelom-pokkan pada fungsi utama yang mempunyai arti untuk kehidup-an manusia.

Geobotanical: Distribusi spatial dari komponen lingkungan abio-tik dan biotik, dari lansekap ta-nah sampai yang didekati oleh tanaman, dan pada distribusi ta-naman utama sebagai komunitas, tanah hutan dan sebagainya.

Hewan: Pandangan akhir ini kon-sepnya dihubungkan dengan pe-ngamatan lansekap manusia, wa-laupun terdapat perbedaan subs-tantial dalam mendekati secara langsung.

Masing-masing dari tiga pendekatan ini menga-mati pola-pola dan pro-ses-proses dalam analisa akhir, yang komponen-komponennya dari selu-ruh sistem biologi dan sistem ekologi. Dari tiga pandangan ini kita dapat mengkombinasikan teori-teori, para-digma, dan model-model yang diha-silkan oleh pendekatan monodisi-pliner.

Penyatuan Teori Dan Model Pada Ekologi Lansekap

Keanekaragaman lansekap, kerumitan komponen-komponen suatu sistem, peru-bahan kelakuan popu-lasi yang hidup pada suatu lingkungan, dan tekanan terhadap asal suatu habitat, menim-bulkan efek yang sa-ngat berpengaruh ter-hadap organisme-orga-nisme yang ada pada lansekap (Ferina, 1998). Paling tidak teori hirar-ki dan model Metapo-pulasi, menempati tempat yang penting dalam formulasi sebu-ah kerangka ekologi lansekap.

 

Teori Hirarki Dan Struktur Lansekap

Hirarki merupakan teori yang sangat bermanfaat dalam ekologi lansekap, dimana paradigma hirarki menjelas-kan bagaimana lokalisasi komponen-komponen yang berbeda pada suatu skala tertentu memiliki hubungan dengan komponen-komponen lain-nya yang terlihat pada skala resolusi yang berbeda.

Teori Hirarki mempertimbangkan se-buah sistem komponen dari sistem yang besar, dan dikomposisikan da-lam subsistem yang ada. Klasifikasi lansekap adalah suatu contoh sebuah kerangka hirarki, mulai dari ekotipe, mikro, meso, makro dan megachore. Aliran sungai merupakan contoh dari suatu sistem hirarki, dan kompleks adalah bagian dasar dari komponen hirarki. Semakin banyak komponen yangtercakup dalam sebuah sistem, akan semakin kompleks sistem ter-sebut (Ferina, 1998).

Metapopulasi

Kalimat metapopulasi diperkenalkan pertamakali oleh Levins pada tahun 1970, untuk menggambarkan sebuah populasi dalam sekelompok populasi (Gilpin dan Hanski dalam Ferina, 1998). Metapopulasi adalah suatu sis-tem dimana tingkat rata-rata keber-adaan serta rekolonisasi yang meng-akibatkan terjadinya perpindahan individu-individu yang menjamin terjadinya hubungan secara genetis antara masing-masing sub populasi.

Konsep metapopulasi sangat erat hubungannya dengan pulau Biografi (Mac Arthur dan Wilson dalam Ferina, 1998), dengan mempertim-bangkan baik kolonisasi maupun tingkat keberadaan sebagai proses yang mendasarinya. Secara khusus, hubungan antara konsep metapopu-lasi terhadap Ekologi Lansekap, mempengaruhi sintesa yang kuat.

Proses penyebaran menghasilkan fak-tor yang sangat penting, yang me-nentukan daerah demografis serta struktur secara spesial dari meta-populasi tersebut. Hanson (dalam Ferina, 1998) mengatakan bahwa ada (tiga) faktor utama yang berpengaruh terhadap proses penyebaran tersebut. Yaitu:

Ambang batas ekonomi;

Konflik yang terjadi pada penga-daan sumber daya;

Pembatalan pemeliharaan.

Metode Dalam Ekologi Lansekap

Terdapat sejumlah cara untuk me-ngukur beberapa hal pokok yang mendukung sebuah perencanaan lan-sekap. Pendekatan lansekap ini sangat bervariasi, sehingga tidak mungkin membahasnya secara kese-luruhan dan mengacu kepada meto-dologi standart. Kebanyakan pen-dekatan itu berasal dari geostatistik, geobotanik, analisa populasi satwa, perilaku ekologi dan sebagainya.`

Cara-cara yang paling banyak di-gunakan untuk menjelaskan keru-mitan suatu lansekap adalah melalui pencitraan sistem informasi geografi. Statistik ruang dan geometri per ba-gian. Peta-peta, foto udara dan citra satelit biasanya dilakukan sebelum dan sesudah suatu lahan dicatat atau di data. Namun hal tersebut banyak mengalami bias (penyimpangan) yang disebabkan oleh waktu, reso-lusi, dan kualitasnya.

Proses Data Numerik Dan Ruang

Pengolahan data mengenai ruang me-rupakan inti dari ekologi lansekap. Terdapat dua (2) tipe informasi yang diproses dalam analisa, yaitu; Path dan Lansekap. Tipe pertama adalah dimana analisa lebih banyak di-fokuskan dalam berbagai ukuran bentuk dan pengaturan ruang dari setiap potongan yang ada. Tipe yang kedua lebih rumit, karena difokuskan kepada land mozaik (bentukan ta-nah).

Pendekatan terhadap studi bentuk path ini sangat penting karena keter-aturan dan ketidakteraturan bentuk path tersebut merupakan konse-kuensi-konsekuensi yang terdapat pada organisme. Jika kita asumsikan lingkaran merupakan bentukan path yang umum, semakin tidak ber-aturannya sebuah path semakin banyak tepian dan semakin ber-kurang area didalamnya yang ter-sedia. Sebuah path yang tidak teratur memiliki lebih banyak proses yang heterogen dibandingkan yang ter-atur. Kesesuaian habitat, resiko pe-mangsa dan tekanan iklim mikro me-rupakan beberapa konsekuensi lang-sung dari bentuk path yang tidak teratur.

Penelusuran batas pada lansekap bukanlah suatu hal yang mudah, bahkan akhir dari berbagai habitat atau tipe lahan bukan sebagai batas sesungguhnya. Sementara batas-batas cukup sempit dan tingkat kepadatan habitat tinggi, sehingga sangat sulit menemukan antara batas struktur dan batas fungsi.

Analisa Lansekap Dengan Pendekatan Fraktal Geometri

Heterogenitas adalah pola biasa dari lingkungan dan terutama terlihat pada skala lansekap. Organisme, po-pulasi dan komunitas memiliki distri-busi spatial yang mencerminkan hete-rogenitas alam di suatu lahan.

Fraktal geometri memberikan pers-pektif dalam studi dan interpretasi dari kompleksitas dan dinamika lan-sekap dari berbagai skala (Ferina, 1998). Fraktal geometri sangat ber-guna dalam analisa lansekap karena kompleksnya lansekap dan pola-pola berskalanya, serta proses yang dibu-tuhkan berupa peralatan mutakhir untuk diteliti. Fraktal-fraktal tidak hanya digambarkan dengan pola-pola seperti pola bentukan hutan, tetapi juga dengan proses-proses dan komponen-komponen Analisa Frak-tal dapat diterapkan pada peng-aturan pola bentukan dan patial, dan juga penyebaran binatang dalam suatu ruang.

Kata Fraktal diciptkan pada tahun 1975 oleh Mandlebrot, untuk mendis-kripsikan sebuah obyek irreguler, dimana bentuk tersebut dihadirkan dalam bentuk skala. Definisi saebuah Fraktal menurut Mandlebrot dalam Ferina, 1998 adalah bentukan yang disusun atas bagian-bagian yang serupa secara keseluruhan tetapi dalam beberapa bentuk berbeda.

Ada dua (2) jenis berbeda dari Fraktal yang dapat diamati, yaitu Reguler dan Alami Jenis pertama digambarkan oleh obyek skala invarian (kemiripan diri atau kedekatan diri). Fraktal Reguler memiliki kemiripan diri yang tepat. Pada saat sebuah obyek disalin ulang dalam segala arah (isotropik), obyek tersebut memiliki tanda kemiripan diri. Kategori kedua mengenai Frak-tal Alami. Contoh: awan, garis pantai, kumpulan organisme di udara dan sebagainya. Umumnya Fraktal yang paling alami berbeda dari garis kemiripan diri dan disebut Fraktal Acak, menggambarkan versi statistik dan kemiripan diri.

Model Fraktal dapat diterapkan untuk meng-ukur karakteristik lanse-kap dan juga mengukur pola yang terlihat sebagai spesifikasi species (Johnson et all, 1991 dalam Ferina 1998). Contoh pendekatan yang bermanfaat untuk memahami kompleksitas dari lingkungan dan untuk memprediksikan respon spe-sifikasi species untuk sumber kon-fikguarasi spatial. Analisa Fraktial efisien untuk mendiskripsikan variasi pada skala yang luas. Umumnya pola-pola dihasilkan oleh variasi proses yang berjalan pada banyak skala dan tingkatan organis-me.

Semi Variant Dan Analisa Fraktal

Analisa fraktal efisien untuk mendes-kripsikan variasi pada skala yang luas. Umumnya pola-pola dihasilkan oleh variasi proses yang berjalan pada banyak skala tingkatan organisme. Fraktal akan membantu untuk memahami jalannya proses ekologi, walaupun informasinya ti-dak dapat dihubungkan dengan suatu proses tertentu. Russel dan kawan-kawan (Russel et all 1992 dalam Ferina, 1998) mempelajari penyebaran burung laut dan makanan, dengan menggunakan analisa fraktal. Dalam studi ini menentukan hubungan antara pe-mangsa dan predator. Peneliti meng-gunakan metode berdasarkan teori geostatik dan variabel regional (RV). Variabel regional ini terlalu sulit untuk digambarkan dengan model matematika sederhana, karena ada-nya karakter berbeda dari contoh yang ada disekitarnya.

Semi variant

g(¡ )= ½ N (¡ ) å (Xj - (Xj + ¡ ) 2)

¡ adalah sampling interval.

2g (¡ ) =¡ (4-2D), dimana g (¡ ) adalah semi variant pada interval ¡

Dimensi fraktal D = (4-m)/2 (¡ ® 0), dimana m adalah slope (4-2D) dari ln g (¡ ) - ln ¡ .

Analisa fraktal efisien dengan men-diskripsikan variasi pada skala yang luas. Umumnya pola-pola dihasilkan oleh variasi proses yang berjalan pada banyak skala dan tingkatan organ-isme.

Kesimpulan

Tiap ilmu mempunyai cara-caranya sendiri dalam memecahkan masalah-maslah yang termasuk dalam lapang-an pekerjaannya. Demikian halnya dengan Arsitektur Lansekap mempu-nyai cara bekerjanya sendiri. Bahwa cara yang dipergunakannya oleh ilmu tersebut seringkali berubah-ubah. Dari uraian perihal cara-cara penelitian yang dilakukan Ilmu Arsitektur Lansekap itu dapat diambil suatu kesimpulan, bahwa untuk memahami proses-proses yang terjadi atau mungkin akan terjadi diperlukan pengetahuan tentang Teori, dan Metoda-metoda dari Ilmu Ekologi (Lingkungan).

Daftar Pustaka

Djoko Wijono, Metode Pene-litian Dan Pemrograman Ran-cang Bangun Arsitektur, 1990.

Farina, Almo, Principles And Methods In Landscape Ecology, Chapman & Hall Ltd, London, 1998.

Love Joy, Derek, Lan Use And Landscape Planning, Leonard Mills Book, 1973.

Motloch, Jl, Introduction To Landscape Design, Van Nos-trand, New York, 1991.

Naveh. Zev, Landscape Ecology, Theory And Application, Spri-nger-Verlag, New York, 1984.

Sanoff, Henry, Methods Of Ar-chitectural Programming, Hu-chinson & Ross Inc, Pensylvania, 1977.

Simon, J.O., Landscape Archi-tecture, Mc. Graw Hill, USA, 1983.

Simon, J.O, Earthscape A Ma-nual Of Enviromental Planning. Mc. Graw Hill, USA, 1978.

 

back